HAEMOGLOBIN (Hb)

>> Selasa, 12 Mei 2009

Haemoglobin adalah kompleks protein-pigmen yang mengandung zat besi. Kompleks tersebut berwarna merah dan terdapat didalam eritrosit. Sebuah molekul haemoglobin memiliki empat gugus haeme yang mengandung besi fero dan empat rantai globin. Terdapat beberapa bentuk haaemoglobin : tipe fetal (HbF)  dan dua bentuk utama haemoglobin dewasa (HbA1 dan HbA2). Haemoglobin membawa oksigen, sebagian karbondioksida dan mendapat perubahan pH.
Glycosylated haemoglobin (HbA1) ---> kadar HbA1 menunjukkan kadar gula darah selama periode beberapa bulan dan dapat digunakan untuk menilai derajat pengendalian pada Diabetes mellitus.
Nilai normal Hb untuk laki-laki adalah 13 gr% - 18 gr%, dan untuk wanita adalah 11,5 gr% - 16,5 gr% (Brooker, 2001). 

Haemoglobin adalah Sebuah substansi didalam sel darah merah (erithrocyte) dan tanggung jawab masing-masing warna, terdiri dari pigmen haeme (zat besi - berisi porphyrin) terkait dengan protein globin. Haemoglobin memiliki sifat unik dapat menyatu dengan oksigen dan merupakan pengangkut oksigen ke seluruh tubuh. Haemoglobin membawa oksigen dalam aliran darah melewati paru-paru dan bersama dengan darah sampai ke jaringan tubuh. Darah biasanya mengandung 12-18 g / dl dari hemoglobin.


Myohaemoglobin : zat besi - yang mengandung protein, menyerupai hemoglobin, ditemukan dalam sel otot. Seperti hemoglobin yang berisi kumpulan haeme. Ikatan yang mengandung oksigen, bertindak sebagai reservoir oksigen di dalam serabut otot .

Oxyhaemoglobin : substansi darah merah dibentuk bila pigmen hemoglobin dalam sel darah merah menyatu kembali dengan oksigen. Oxyhaemoglobin adalah bentuk oksigen yang diangkut dari paru-paru ke sel-sel, di mana oksigen dilepaskan.

Methahaemoglobin : substansi yang dibentuk apabila atom besi dari pigmen hemoglobin darah telah mengoksidasi dari ferrous ke bentuk ferric (bandingkan oxyhaemoglobin). Methahaemoglobin yang tidak dapat mengikat oksigen molekular dan karenanya tidak dapat mentransportasi oksigen ke seluruh tubuh. Keberadaan methahaemoglobin dalam darah (methahaemoglobinaemia) mungkin akibat menelan zat oksid dari narkoba atau dari warisan keabnormalan dari molekul hemoglobin. Gejala - gejala termasuk kelelahan, sakit kepala, pusing dan cyanosis (oxford electric medical dictionary).

Referensi :
Brooker, Christine. 2001. Kamus Saku Keperawatan.EGC  : Jakarta.
oxford electric medical dictionary (Indonesian Translete by Patriani)

English Version

Haemoglobin is the pigment-protein complex that contains iron. Complex is red and there is the eritrosit. A haemoglobin molecule has four haeme group which contains iron and fero four globin chains. There are several forms of haaemoglobin: type fetal (HbF) and the two main forms of adult haemoglobin (HbA1 and HbA2). Haemoglobin takes oxygen, some carbon dioxide and the pH changes. Glycosylated haemoglobin (HbA1) ---> HbA1 level indicates the blood sugar over a period of several months and can be used to assess the degree of control on Diabetes mellitus. Hb normal value for men is 13% gr - 18 gr%, and for women is gr 11.5% - 16.5 gr% (Brooker, 2001).

Haemoglobin is a substance contained within the red blood cell (erithrocyte) and responsible for their colour, composed of the pigment haem (an iron - containing porphyrin) linked to the protein globin. Haemoglobin has the unique property of combining reversibly with oxygen and is the medium by which oxygen is transported within the body. it take up oxygen as blood passes through the lungs and releases it as blood passes through the tissues. Blood normally contains 12-18 g/dl of haemoglobin.

Myohaemoglobin : an iron – containing protein, resembling haemoglobin, found in muscle cell. Like haemoglobin it contains a haem group. Which binds reversibly with oxygen, and so acts as an oxygen reservoir within the muscle fibres.

Oxyhaemoglobin : the bright – red substance formed when the pigment haemoglobin in red blood cell combines reversibly with oxygen. Oxyhaemoglobin is the form in which oxygen is transported from the lungs to the tissues, where the oxygen is released.

Methahaemoglobin : a substance formed when the iron atoms of the blood pigment haemoglobin have been oxidized from the ferrous to the ferric form (compare oxyhaemoglobin). The methahaemoglobin cannot bind molecular oxygen and therefore it cannot transport oxygen round the body. The presence of methahaemoglobin in the blood (methahaemoglobinaemia) may result from the ingestion of oxidizing drugs or from an inherited abnormality of the haemoglobin molecule. Symtomps include fatigue, headache, dizziness and cyanosis (oxford electric medical dictionary).

Japanese Version

モグロビンは鉄を含んでいる顔料蛋白質の複合体である。 複合体は赤く、eritrositがある。 ヘモグロビンの分子に鉄およびferoを4つのglobinの鎖含んでいる4つのhaemeのグループがある。 haaemoglobinの複数の形態がある: 胎児タイプ(HbF)および大人のヘモグロビンの2つの主要な形態(HbA1およびHbA2)。 ヘモグロビンは酸素、二酸化炭素およびpH変更を取る。 Glycosylatedヘモグロビン(HbA1) ---> HbA1レベルは数月一定期間に渡って血糖を示し、糖尿病mellitusの制御のある程度を査定するのに使用することができる。 人のためのHbの正常な価値は13% gr -女性のための18 gr%、gr 11.5%はあり- 16.5 gr%である。(Brooker, 2001).

ヘモグロビンです 物質は、赤血球( erithrocyte )とその色は、色素裾(鉄-ポルフィリンを含む)は、タンパク質のグロビンにリンクに含まれる構成を担当。可逆ヘモグロビンの酸素と結合しているとのユニークな特性は、酸素が体内の酸素運搬されている媒体です。血液が肺を通過すると、血液の組織を通過するとしても酸素をリリースする。血液は通常12から18グラム/ヘモグロビンのライブラリが含まれて.

Myohaemoglobin: 鉄-ヘモグロビンに類似している蛋白質を含んでいて筋肉細胞で見つけた。 ヘモグロビンのようにそれはhaemグループを含んでいる。 、および従ってリバーシブルに結合するかどれが酸素と機能する筋繊維内の酸素の貯蔵所として。

Oxyhaemoglobin: 明るい – 赤物質、色素ヘモグロビン赤い血のセルに組み合わせた可逆的酸素とを形成します。 Oxyhaemoglobin はで酸素に運ばれる、肺から、組織、酸素が解放されます。

Methahaemoglobin: 物質形成を ferric フォーム (比較 oxyhaemoglobin) に、鉄原子血液色素ヘモグロビンが、鉄から酸化されている場合。 methahaemoglobin、酸素の分子をバインドできませんおよびラウンド、身体の酸素をトランスポートとことはできませんしたがってします。 ヘモグロビン分子の遺伝的異常から、または、経口摂取の薬物を酸化剤から methahaemoglobin (methahaemoglobinaemia)、血液中の存在があります。 Symtomps には、疲労、頭痛、めまい、および cyanosis が含まれます。(oxford electric medical dictionary) 

参照 
Brooker, Christine。 2001。 Kamus Saku Keperawatan. EGC : Jakaruta. 
oxford 電気医療辞書 (日本語翻訳 Translete.Net によって)

Read more...

ASKEP GADAR PERDARAHAN

>> Rabu, 06 Mei 2009

Definisi 
 Perdarahan terjadi jika pembuluh darah putus atau pecah.
 Perdarahan luar
 Perdarahan dalam
 Perdarahan hebat, dapat membahayakan shock hipovolemik 
 Klafisikasi : perdarahan kapiler, perdarahan arteri, perdarahan vena.

Asuhan Keperawatan
Pengkajian

  • Pengkajian ABCD, pucat, kulit dingin dan lembab, tekanan darah turun, nadi cepat tapi lemah, nafas dalam dan cepat, menurunnya produksi urine.
  • Diagnosa keperawatan
  • Kurang volume cairan tubuh berhubungan dengan kehilangan darah aktif.
  • Penurunan kardiak output berhubungan dengan penurunan preload, kehilangan darah.
  • Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan kehilangan darah.
  • Perubahan persepsi sensori berhubungan dengan penurunan perfusi otak.
  • Tujuan keperawatan 

     Mengontrol perdarahan.
     Mempertahankan volume darah sirkulasiadekuat untuk oksigenasi.
     Mencegah shock.


    Penatalaksanaan kedaruratan 
    Potong baju pasien untuk mengidentifikasi area perdarahan dan lakukan pengkajian fisik dengan cepat.
     Beri penekanan pada area perdarahan.
    • Penekanan langsung
    Tekan langsung area perdarahan dengan telapak tangan atau menggunakan pembalut atau kainyang bersih selama kurang lebih 15 menit, dan pasang balutan tekanan kuat.
    • Penekanan arteri 
    Penekanan dilakukan pada ujung arteri yang sesuai (ujung dimana arteri ditekan melawan tulang yang berada dibawahnya).
    Enam titik utama penekanan 
     Arteri temporalis : pada daerah depan masing-masing telinga dan dapat ditekan pada tulang tengkorak.
     Arteri fasialis : terletak dibawah dagu dan 2,5 cm sebelah dalam dagu.
     Arteri karotis komunis : pada sisi samping trachea. Saat dilakukan tekanan observasi pernapasan pasien dan tidak boleh pada kedua arteri karotis dalam waktu bersamaan.
     Arteri subklavia : terletak dibawah kedua sisi klavikula (tulang collar). Penekanan harus dilakukan pada posisi melintang dibelakang dan kira – kira setengah panjang klavikula.
     Arteri brakhialis : pada pertengahan antara siku dan bahu, terletak pada daerah yang lebih dalam dari lengan atas antara otot biseps dan triseps.
     Arteri femoralis : dapat dirasakan pada lipat paha. 
    • Torniket 
     Pemasanagan torniket pada ekstremitas hanya sebagai upaya terakhir ketika perdarahan tidak dapat dikontrol dengan metode lain.
     Torniket dipasang tepat proksimal dengan luka ; torniket cukup kencang untuk mengontrol aliran darah arteri.
     Berikan tanda pada kulit pasien dengan pulpen atau plester dengan tanda T, menyatakan lokasi dan waktu pemasangan torniket.
     Longgarkan torniket sesuai petunjuk untuk mencegah kerusakan vascular atau neurologik. Bila sudah tidak ada perdarahan arteri, lepasakan torniket dan coba lagi balut dengan tekanan.
     Pada kejadian amputasi traumatic, jangan lepaskan torniket sampai pasien masuk ruang operasi.
     Tinggikan atau elevasikan bagian yang luka untuk memperlambat mengalirnya darah.
     Baringkan korban untuk mengurangi derasnya darah keluar.
     Berikan cairan pengganti sesuai saran, meliputi cairan elektrolit isotonic, plasma atau protein plasma, atau terapi komponen darah (bergantung perkiraan tipe dan volume cairan yang hilang).
    • Darah segar diberikan bila ada kehilangan darah massif.
    • Tamabahan trombosit dan factor pembekuan darah diberikan ketika jumlah darah yang besar diperlukan karena darah penggantian kekurangan factor pembekuan.
     Lakukan pemeriksaan darah arteri untuk menentukan gas darah dan memantau tekanan hemodinamik.
     Awasi tanda – tanda shock atau gagal jantung karena hipovolemia dan anoksia.


    REFERENSI 
    Brunner and Suddarth. 2001. Keperawatan Medikal Bedah, Ed.8 Vol.3. EGC : Jakarta.
    Hudak, Carolyn M. 1996. Keperawatan Kritis-Pendekatan holistic, Ed. 6. Vol. 2. EGC : Jakarta.
    Pusponegoro, A.D. Dkk . Buku Panduan Penanggulangan Penderita gawat Darurat. Ambulance 118 : Jakarta.
    Skeet, Muriel. 1995. Tindakan paramedic Terrhadap Kegawatan dan Pertolongan Pertama, Ed. 2. EGC : Jakarta.

    Read more...

    MODEL KONSEPTUAL MYRA ESTRINE LEVINE

    >> Selasa, 30 Desember 2008

    TEORI LEVINE


    TEORI LEVINE & EMPAT KONSEP POKOK
    Levine menekankan kebutuhan dalam memandang individu sebagai makhluk holistik yang termasuk individu sebagai makhluk yang kompleks. Dia mendefinisikan perawatan berdasarkan pada ketergantungan/ hubungan manusia dengan orang lain. Besarnya ketergantungan ini membuatnya merencanakan empat prinsip konservasi yakni kebutuhan energi dan pemakaiannya, integritas sosial, integritas struktur, integritas personal. Manusia tergantung pada yang lain pada semua aspek kehidupan, makanan, keamanan, rekreasi dan penghargaan. Levine mengharapkan seorang perawat :
    1. mengetahui kekomplekan interaksi
    2. mendukung dalam mempertahankan atau memulihkan hubungan saat klien mengalami gangguan kesehatan.
    Keseimbangan yang normal berubah saat sakit dan klien akan berusaha mengatasi stress nya dan mungkin menunjukkan perubahan pola tingkah laku dan fungsi. Seorang perawat harus mempersepsikan pertanggung jawaban dalam membantu klien untuk mengadaptasi perubahan kearah cara pemeliharaan kesehatan yang positif. Pengaruh masyarakat atau lingkungn dalam teori Levine sangat penting. Inti dari definisi teori Levine bahwa perawatan adalah interaksi antara manusia, ia menggunakan konsep adaptasi dan peningkatan respon tubuh melalui pendekatan sistem.


    TEORI LEVINE DAN PROSES KEPERAWATAN
    Teori perawatan Levine pada pokoknya sama dengan elemen-elemen proses perawatan. Menurutnya harus selalu mengobservasi klien, memberikan intervensi yang tepat sesuai dengan perencanaan dan mengevaluasi. Semua tindakan ini bertujuan untuk membantu klien. Menurutnya dalam perawatan klien, perawat dan klien harus bekerja sama.
    Dalam teori Levine, klien dipandang dalam posisi ketergantungan, sehingga kemampuan klien terbatas untuk berpartisipasi dalam pengumpulan data, perencanaan, implementasi atau semua fase dari posisi ketergantungan. Klien membutuhkan bantuan dari perawat untuk beradaptasi terhadap gangguan kesehatannya. Perawat bertanggung jawab dalam menentukan besarnya kemampuan partisipasi klien dalam perawatan.Dalam fase pengkajian, klien dikaji melalui dua metoda yaitu interview dan observasi. dalam pengkajian berfokus pada klien, keluarga, anggota lainnya, atau hanya mempertimbangkan penjelasan dari mereka dalam membantu memecahkan permasalahan kesehatanklien. Hal ini juga mempengaruhi kesiapan klien dalam menghadapi lingkungan eksternal. Menurut Levine, jika anggota keluarga membutuhkan suatu perjanjian maka keluarga harus menjadi sasaran pengkajian. Dalam pengkajian menyeluruh, perawat menggunakan empat prinsip teori Levine yang disebut pedoman pengkajian. Perawat menitik beratkan pada keseimbangan energi klien dan pemeliharaan integritas klien. Kemudian perawat mengumpulkan sumber energi klien yaitu nutrisi, istirahat (tidur), waktu luang, pola koping, hubungan dengan anggota keluarga/orang lain, pengobatan, lingkungan dan penggunaan energi yakni fungsi dari beberapa sistem tubuh, emosi dan stress sosial dan pola kerja. Juga data tentang integritas struktur klien yaitu pertahanan tubuh, struktur fisik, integritas personal (sistem diri klien) yakni keunikan, nilai, kepercayaan dan integritas sosial yakni : proses keputusan dari klien dan hubungan klien dengan orang lain serta kesukaran dalam berhubungan dengan orang lain atau masyrakat.
    Setelah mengumpulkan semua data, perawat menganalisa data secara menyeluruh. Analisa ini mencerminkan keseimbangan kekuatan dan kelemahan dari diri klien pada empat area pengkajian (prinsip konservasi). Analisa ini juga membutuhkan pengumpulan data lebih banyak. Dalam menganalisa, konsep dan teori dari disiplin lain juga sama penekanannya.Dalam fase perencanaan dimasukkan tujuan akhir. Proses perawatan menekankan kualitas dari aktivitas klien dan perawat. Bagaimanpun, Levine tidak secara khusus mengidentifikasikan atau menekankan kebutuhan sebagai tujuan akhir. Kesimpulannya mutu adalah sangat penting diaplikasikan dalam teori ini untuk mencapai tujuan klinik. Dasar dari pendapat ini adalah : Posisi ketergantungan dari klien sebagai akibat dari sakit atau bantuan kesehatan yang membutuhkan bantuan perawatan.Tanggung jawab perawat untuk memonitor kondisi klien dalam mengatur keseimbangan antara intervensi keperawatan dan partisipasi klien dalam perawatan. Perawat sebagai individu harus melibatkan klien dalam aktivitas pengkajian dasar dan kemampuan partisipasi klien dalam mencapai tujuan akhir. Tujuan harus mencerminkan usaha membantu klien untuk beradaptasi dan mencapai kondisii sehat. Dalam fase perencanaan, perawat harus menetapkan tujuan :
    1. Menetapkan strategi yang dipakai untuk perencanaan.
    2. Menentukan tingkat perencanaan yang harus dikembangkan untuk mencapai tujuan.
    Levine menyatakan perawat harus mempunyai dasar pengetahui praktis, kemudian tahapan dari perencanaan perawatan harus berdasar dari prinsip, hukum, konsep, teori, dan pengetahuan tentang diri manusia. Dalam mengembangkan perencanaan perawat harus meningkatkan kemampuan partisipasi klien dalam perencanaan perawatan dan mengidentifikasi tingkat partisipasi klien. Selama fase perencanaan perawat boleh konsul dengan team kesehatan lain. Pelaksanaan dari perawatan disebut implementasi. Perawat harus mengawasi respon klien. Data dikumpulkan kemudian dipakai dalam fase evaluasi. Selama fase evaluasi perawat bertanggung jawab untuk memberikan perawatan kepada klien. Teori Levine menyatakan bahwa :
    1. Perawat harus memiliki skill untuk melaksanakan intervensi keperawatan.
    2. Intervensi perawat mendorong adaptasi klien.
    3. Dalam fase evaluasi perawat memusatkan respon dari klien untuk melakukan tindakan perawatan.
    4. Perawat mengumpulkan data tentang respon klien untuk menetukan intervensi perawatan yaitu tentang pengobatan atau support.
    Bagaimana teori Levine berfokus pada orang per orang, berorientasi pada waktu sekarang maupun masa yang akan datang, dan klien dengan gangguan kesehatan membutuhkan intervensi perawatan.

    REFERENSI :
    Dwidiyanti, Mediana. 1998. Aplikasi Konseptual Keperawatan. AKPER DEPKES : Semarang.

    Read more...

    INSOMNIA

    >> Selasa, 16 Desember 2008

    NURSING CARE IN INSOMNIA
    PENGERTIAN
    Tidur adalah bagian dari ritme biologis tubuh untuk mengembalikan stamina. Kebutuhan tidur bervariasi pada masing-masing orang, umumnya 6-8 jam per hari. Agar tetap sehat, yang perlu diperhatikan adalah kualitas tidur (www.depkes.go.id).
    Insomnia adalah kesukaran dalam memulai atau mempertahankan tidur yang bisa bersifat sementara atau persisten (Kaplan & Sadock, 1997).
    Insomnia adalah salah satu fenomena umum dalam gangguan pola tidur. Jangka panjang dapat menyebabkan menderita gejala somatic dan perkembangan penyakit. Ia bahkan dapat menimbulkan penyakit mental dengan dimensi (www.ncbi.nlm.nih.gov).
    Insomnia insomnia adalah ketidakmampuan untuk tidur, tetap tidur, atau merasa segar dengan tidur. Akut dan sementara selama periode stres, insomnia dapat menjadi kronis, konstan menyebabkan kelelahan, kegelisahan ekstrim sebagai pendekatan sensasi, dan gangguan kejiwaan (www.wrongdiagnosis.com).


    PENYEBAB
    1. karena kondisi medis : tiap kondisi yang menyakitkan atau tidak menyenangkan,sindroma apnea tidur, restless leggs syndrome,faktor diet, parasomnia, efek zat langsung (drugs/alcohol), efek putus zat, penyakit endokrin/metabolik, penyakit infeksi, neoplastic, nyeri/ketidaknyamanan,lesi batang otak/hipotalamus, akibat penuaan.
    2. sekunder karena kondisi psikiatri
    kecemasan, ketegangan otot-otot, perubahan lingkungan, gangguan tidur irama sirkadian, depresi primer, stress pascatraumatik, skizofrenia (Kaplan & Sadock, 1997).
    Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders-IV (DSM-IV), menunjukkan beberapa gejala dimana seseorang dapat didiagnosis sedang menderita insomnia karena faktor psikologis, yaitu:

    1. Kesulitan untuk memulai, mempertahankan tidur, dan tidak dapat memperbaiki tidur selama sekurangnya satu bulan merupakan keluahan yang paling banyak terjadi.
    2. Insomnia ini menyebabkan penderita menjadi stres sehingga dapat mengganggu fungsi sosial,pekerjaan atau area fungsi penting yang lain.
    3. Insomnia karena faktor psikologis ini bukan termasuk narkolepsi, gangguan tidur yang berhubungan dengan pernafasan, gangguan ritme sirkadian atau parasomnia.
    4. Insomnia karena faktor psikologis tidak terjadi karena gangguan mental lain seperti gangguan depresi, delirium.
    5. Insomnia karena faktor psikologis tidak terjadi karena efek fisiologis yang langsung dari suatu zat seperti penyalahgunaan obat atau kondisi medis yang umum.
    Dengan adanya gejela-gejala yang disebutkan oleh Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders-IV (DSM-IV), maka insomnia karena faktor psikologis dapat mengganggu berbagai fungsi sosial. (www.e-psikologi.com).

    SIKLUS INSOMNIA KRONIS
    Jika seseorang mengalami insomnia sementara karena faktor psikologis (mengalami kesulitan tidur dengan nyenyak selama kurang lebih satu malam dan kurang dari empat minggu) tetapi tidak dapat beradaptasi dengan penyebab insomnia (tidak mampu mengelola stres tersebut secara sehat) maka akan mengakibatkan seseorang mengalami insomnia jangka pendek (kesulitan tidur nyenyak selama empat minggu hingga enam bulan). Jika insomnia jangka pendek ini tetap tidak dapat diatasi oleh si penderita maka akan mengakibatkan insomnia kronis. Jika terjadi insomnia kronis maka akan memerlukan waktu yang lebih lama untuk penyembuhannya (www.e-psikologi.com).
    Keadaan jaga atau bangun sangat dipengaruhi oleh sistim ARAS (Ascending Reticulary Activity System). Bila aktifitas ARAS ini meningkat orang tersebut dalam keadaan terjaga. Aktifitas ARAS menurun, orang tersebut akan dalam keadaan tidur. Aktifitas ARAS ini sangat dipengaruhi oleh aktifitas neurotransmiter seperti sistem serotoninergik, noradrenergik, kholonergik, histaminergik.
    • Sistem serotonergik
    Hasil serotonergik sangat dipengaruhi oleh hasil metabolisma asam amino trypthopan. Dengan    bertambahnya jumlah tryptopan, maka jumlah serotonin yang terbentuk juga meningkat akan    menyebabkan keadaan mengantuk/tidur. Bila serotonin dari tryptopan terhambat pembentukannya, maka terjadikeadaan tidak bisa tidur/jaga. Menurut beberapa peneliti lokasi yang terbanyak sistem serotogenik ini terletak pada nukleus raphe dorsalis di batang otak, yang mana terdapat hubungan aktifitas serotonis dinukleus raphe dorsalis dengan tidur REM.
    • Sistem Adrenergik
    Neuron-neuron yang terbanyak mengandung norepineprin terletak di badan sel nukleus cereleus di batang otak. Kerusakan sel neuron pada lokus cereleus sangat mempengaruhi penurunan atau hilangnya REM tidur. Obat-obatan yang mempengaruhi peningkatan aktifitas neuron noradrenergic akan menyebabkan penurunan yang jelas pada tidur REM dan peningkatan keadaan jaga.
    • Sistem Kholinergik
    Sitaram et al (1976) membuktikan dengan pemberian prostigimin intra vena dapat mempengaruhi episode tidur REM. Stimulasi jalur kholihergik ini, mengakibatkan aktifitas gambaran EEG seperti dalam keadaan jaga. Gangguan aktifitas kholinergik sentral yang berhubungan dengan perubahan tidur ini terlihat pada orang depresi, sehingga terjadi pemendekan latensi tidur REM. Pada obat antikolinergik (scopolamine) yang menghambat pengeluaran kholinergik dari lokus sereleus maka tamapk gangguan pada fase awal dan penurunan REM.
    • Sistem histaminergik
    Pengaruh histamin sangat sedikit mempengaruhi tidur.
    • Sistem hormon
    Pengaruh hormon terhadap siklus tidur dipengaruhi oleh beberapa hormone seperti ACTH, GH, TSH, dan LH. Hormon hormon ini masing-masing disekresi secara teratur oleh kelenjar pituitary anterior melalui hipotalamus patway. Sistem ini secara teratur mempengaruhi pengeluaran neurotransmitter norepinefrin, dopamin, serotonin yang bertugas menagtur mekanisme tidur dan bangun (perawat-jiwatiga.blogspot.com).

    DAMPAK INSOMNIA
    Insomnia dapat mengakibatkan berbagai dampak yang merugikan, yaitu:
    1. Depresi
    2. Kesulitan untuk berkonsentrasi
    3. Aktivitas sehari-hari menjadi terganggu
    4. prestasi kerja atau belajar mengalami penurunan
    5. Mengalami kelelahan di siang hari
    6. Hubungan interpersonal dengan orang lain menjadi buruk
    7. Meningkatkan risiko kematian
    8. Menyebabkan kecelakaan karena mengalami kelelahan yang berlebihan
    9. Memunculkan berbagai penyakit fisik

    Dampak insomnia tidak dapat di anggap remeh, karena bisa menimbulkan kondisi yang lebih serius dan membahayakan kesehatan dan keselamatan. Oleh karenanya, setiap penderita insomnia perlu mencari jalan keluar yang tepat (www.e-psikologi.com).

    THERAPY
    1. CBT (Cognitive Behavioral Therapy)
    CBT digunakan untuk memperbaiki distorsi kognitif si penderita dalam memandang dirinya, lingkungannya, masa depannya, dan untuk meningkatkan rasa percaya dirinya sehingga si penderita merasa berdaya atau merasa bahwa dirinya masih berharga.

    2. Sleep Restriction Therapy
    Sleep restriction therapy digunakan untuk memperbaiki efisiensi tidur si penderita insomnia.

    3. Stimulus Control Therapy
    Stimulus control therapy berguna untuk mempertahankan waktu bangun pagi si penderita secara reguler dengan memperhatikan waktu tidur malam dan melarang si penderita untuk tidur pada siang hari meski hanya sesaat.

    4. Relaxation Therapy
    Relaxation Therapy berguna untuk membuat si penderita rileks pada saat dihadapkan pada kondisi yang penuh ketegangan.

    5. Cognitive Therapy
    Cognitive Therapy berguna untuk mengidentifikasi sikap dan kepercayaan si penderita yang salah mengenai tidur.

    6. Imagery Training
    Imagery Training berguna untuk mengganti pikiran-pikiran si penderita yang tidak menyenangkan menjadi pikiran-pikiran yang menyenangkan.

    Banyak di antara para penderita insomnia karena factor psikologis yang menggunakan obat tidur untuk mengatasi insomnianya. Namun penggunaan yang terus menerus tentu menimbulkan efek samping yang negative, baik secara fisiologis (efek terhadap organ dan fungsi organ tubuh) serta efek psikologis. Logikanya, insomnia yang disebabkan factor psikologis, berarti factor psikologis itu lah yang harus di atasi, bukan symtomnya. Kalau kita hanya focus mengatasi simtom-nya dengan minum berbagai obat tidur, maka ketika mata terbuka, masalah akan datang kembali, bahkan akan dirasa lebih berat karena dibiarkan berlarut-larut tanpa solusi pada akar masalah.

    Perlu diketahui, bahwa keberhasilan terapi tergantung dari motivasi si penderita untuk sembuh sehingga si penderita harus sabar, tekun dan bersungguh-sungguh dalam menjalani sesi terapi. Selain itu, sebaiknya terapi yang dilakukan juga diiringi dengan pemberian terapi keluarga. Hal ini disebabkan, dalam terapi keluarga, anggota keluarga si penderita dilibatkan untuk membantu kesembuhan si penderita. Dalam terapi keluarga, anggota keluarga si penderita juga diberi tahu tentang seluk beluk kondisi si penderita dan diharapkan anggota keluarganya dapat berempati untuk membantu kesembuhan si penderita.

    ASKEP
    kaji efek samping pengobatan pada pola tidur klien.
    pantau pola tidur klien dan catat hubungan faktor-faktor fisik (misalnya : apnea saat tidur, sumbatan jalan nafas, nyeri/ketidaknyamanan, dan sering berkemih).
    jelaskan pada klien pentingnya tidur adekuat (selama kehamilan, sakit, stress psikososial).
    ajarkan klien dan keluarga untuk menghindari faktor penyebab (misal : gaya hidup, diet, aktivitas, dan faktor lingkungan).
    ajarkan klien dan kelurga dalam teknik relaksasi (pijat/urut sebelum tidur, mandi air hangat, minum susu hangat).

    Solusi mencegah insomnia
    Insomnia karena faktor psikologis dapat dicegah dengan cara memanage stres secara positif dan jika ada mengalami masalah sebaiknya sharing pada seseorang yang dapat Anda percaya. Semoga dengan pembahasan tentang insomnia ini, dapat memberikan manfaat bagi Anda. Dengan informasi ini, diharap kita pun bisa memahami penderita insomnia dan dapat memberikan bantuan yang tepat. Perhatian dan empati terhadap penderita insomnia, bisa sedikit mengobati kegalauan emosi jiwanya. Semoga bermanfaat.

    KEPUSTAKAAN
    http://www.e-psikologi.com/epsi/artikel_detail.asp?id=483
    http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/18836979?ordinalpos=2&itool=EntrezSystem2.PEntrez.Pubmed.Pubmed_ResultsPanel.Pubmed_DefaultReportPanel.Pubmed_RVDocSum
    http://www.wrongdiagnosis.com/symptoms/insomnia/causes.htm
    Kaplan, Harold I. & Sadock, Benjamin J. 1997. Sinopsis Psikiatri Jilid 2 edisi 7. Jakarta : Binarupa Aksara.
    Wilkinson, Judit M. 2006. Buku Saku Diagnosis Keperawatan dengan Intervensi NIC dan Kriteria hasil NOC. Jakarta : EGC.

    Read more...

    ULCUS DEKUBITUS

    ULCUS DEKUBITUS
    Definisi

    Ulkus dekubitus adalah kerusakan atau kematian kulit sampai jaringan dari bawah kulit bahkan menembus otot sampai mengenai tulang, akibat adanya penekanan pada suatu area secara terus – menerus sehingga mengakibatkan gangguan sirkulasi darah.

    Ulkus dekubitus adalah ulkus yang ditimbulkan karena tekanan yang kuat oleh berat badan pada tempat tidur.
    Luka dekubitus adalah nekrosis pada jaringan lunak antara tonjolan tulang dan permukaan padat, paling umum akibat imobilisasi.

    Etiologi
    a) Tekanan
    b) Kelembaban
    c) Gesekan


    Patofisiologi
    Tekanan imobilisasi yang lama akan mengakibatkan terjadinya dekubitus, kalau salah satu bagian tubuh berada pada suatu gradient (titik perbedaan antara dua tekanan). Jaringan yang lebih dalam dekat tulang, terutama jaringan otot dengan suplai darah yang baik akan bergeser kearah gradient yang lebih rendah, sementara kulit dipertahankan pada permukaan kontak oleh friksi yang semakin meningkat dengan terdapatnya kelembaban, keadaan ini menyebabkan peregangan dan angggulasi pembuluh darah (mikro sirkulasi) darah yang dalam serta mengalami gaya geser jaringan yang dalam, ini akan menjadi iskemia dan dapat mengalami nekrosis sebelum berlanjut ke kulit.

    Manifestasi Klinis dan Komplikasi
    a) Tanda cidera awal adalah kemerahan yang tidak menghilang apabila ditekan ibu jari.
    b) Pada cidera yang lebih berat dijumpai ulkus dikulit.
    c) Dapat timbul rasa nyeri dan tanda-tanda sistemik peradangan, termasuk demam dan peningkatan hitung sel darah putih.
    d) Dapat terjadi infeksi sebagai akibat dari kelemahan dan perawatan di Rumah Sakit yang berkepanjangan bahkan pada ulkus kecil.

    Pemeriksaan Diagnostik
    a) Kultur : pertumbuhan mikroorganisme tiruan atau sel – sel jaringan.
    b) Albumin serum : protein utama dalam plasma dan cairan serosa lain.

    Penatalaksanaan medis
    a) Merubah posisi pasien yang sedang tirah baring.
    b) Menghilangkan tekanan pada kulit yang memerah dan penempatan pembalut yang bersih dan tipis apabila telah berbentuk ulkus dekubitus.
    c) Sistemik : antibiotic spectrum luas, seperti :
    Amoxilin 4x500 mg selama 15 – 30 hari.
    Siklosperm 1 – 2 gram selama 3 – 10 hari.
    Topical : salep antibiotic seperti kloramphenikol 2 gram.

    Manajemen Keperawatan
    1.Pengkajian
    a)Aktivitas/ istirahat
    Tanda : penurunan kekuatan, ketahanan, keterbatasan rentang gerak.pada area yang sakit gangguannya misalnya otot perubahan tunas.
    b) Sirkulasi
    Tanda : hipoksia, penurunan nadi perifer distal pada ekstremitas yang cidera, vasokontriksi perifer umum dengan kehilangan nadi, kulit putih dan dingin, pembentukan edema jaringan.
    c) Eleminasi
    Tanda : keluaran urin menurun adalah tidak adanya pada fase darurat, warna mungkin hitam kemerahan , bila terjadi, mengidentifiasi kerusakan otot.
    d)Makanan/cairan
    Tanda : edema jaringan umum, anoreksia, mual dan muntah.
    e) Neurosensori
    Gejala : area kebas/kesemutan
    f) Pernapasan
    Gejala :menurunnya fungsi medulla spinalis, edema medulla, kerusakan neurology, paralysis abdominal dan otot pernapasan.
    g) Integritas ego
    Gejala : masalah keluarga, pekerjaan, keuangan, kecacatan.
    Tanda : ansietas, menangis, ketergantungan, mmenarik diri, marah.
    h) Keamanan
    Tanda : adanya fraktur akibat dilokasi (jatuh, kecelakaan, kontraksi otot tetanik, sampai dengan syok listrik).

    2.Diagnosa Keperawatan
    1)Kerusakan integritas jaringan berhubungan dengan destruksi mekanis jaringan sekunder terhadap tekanan, gesekan dan fraksi.
    2)Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan pembatasan gerak yang diharuskan, status yang dikondisikan, kehilangan control motorik akibat perubahan status mental.
    3)Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakmampuan pemasukkan oral.
    4)Risiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan pemajanan dasar dekubitus, penekanan respons inflamasi.
    5)Risiko tinggi terhadap inefektif penatalaksanaan regimen terapeutik berhubungan dengan ketidakcukupan pengetahuan tentang etiologi, pencegahan, tindakan dan perawatan dirumah.

    3.Intervensi dan Implementasi
    1)Kerusakan integritas jaringan berhubungan dengan destruksi mekanis jaringan sekunder terhadap tekanan, gesekan dan fraksi.
    - Terapkan prinsip pencegahan luka dekubitus.
    R : prinsip pencegahan luka dekubitus, meliputi mengurangi atau merotasi tekanan dari jaringan lunak.
    - Atur posis pasien senyaman mungkin.
    R : meminimalkan terjadinya jaringan yang terkena dekubitus.
    - Balut luka dengan balutan yang mempertahankan kelembaban lingkungan diatas dasar luka.
    R : luka yang lembab dapat mempercepat kesembuhan.

    2) Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan pembatasan gerak yang diharuskan, status yang dikondisikan, kehilangan control motorik akibat perubahan status mental.
    - Dukungan mobilisasi ketingkat yang lebih tinggi.
    R : gerakan teratur menghilangkan tekanan konsisten diatas tonjolan tulang.
    - Bantu/dorong perawatan diri/kebersihan, seperti mandi.
    R : meningkatkan kekuatan otot dan sirkulasi, meningkatkan control pasien dalam situasi dan peningkatan kesehatan lingkungan.
    - Berikan perhatian khusus pada kulit.
    R : penelitian menunjukkan bahwa kulit sangat rentan untuk mengalami kerusakan karena konsentrasi berat badan.

    3) Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakmampuan pemasukkan oral.
    - Beri makan dalm jumlah kecil, sering dan dalam keadaan hangat.
    R : membantu mencegah distensi gaster/ketidaknyamanan dan meningkatkan pemasukkan, menambah napsu makan.
    - Bantu kebersihan oral sebelum makan.
    R : mulut/peralatan bersih meningkatkan napsu makan yang baik.
    - Pertahankan kalori yang ketat.
    R : pedoman tepat untuk pemasukkan kalori yang tepat.

    4) Risiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan pemajanan dasar dekubitus, penekanan respons inflamasi.
    - Gunakan tehnik yang tepat selama mengganti balutan.
    R : teknik yang baik mengurangi masuknya mikroorganisme pathogen kedalam luka.
     Ukur tanda – tanda vital .
    R : peningkatan suhu tubuh, takikardia menunjukkan adanya sepsis.
    - Gunakan sarung tangan steril setiap mengganti balutan.
    R : setiap ulkus terkontaminasi oleh mikroorganisme yang berbeda, tindakan ini dapat mencegah infeksi.
    - Cuci dasar luka dengan larutan NaCl 0,9 %.
    R : Dapat membuang jaringan yang mati pada permukaan kulit dan mengurangi mikroorganisme.
    - Berikan obat antibiotic sesuai indikasi.
    R : antibiotic pilihanpada ulkus dekubitus berguna melawan organisme gram negative dan gram positif.

    5) Risiko tinggi terhadap inefektif penatalaksanaan regimen terapeutik berhubungan dengan ketidakcukupan pengetahuan tentang etiologi, pencegahan, tindakan dan perawatan dirumah.
    - Anjurkan tindakan untuk mencegah luka dekubitus.
    R : pencegahan luka dekubitus lebih mudah dari pengobatan.
    - Anjurkan tindakan untuk mengobati luka dekubitus.
    R : instruksi spesifik ini membantu pasien dan keluarga belajar untuk meningkatkan penyembuhan dan mencegah infeksi.

    4. Evaluasi
    1) Pasien dapat mencegah dan mengidentifikasi factor penyebab luka dekubitus; menunjukkan kemajuan penyembuhan.
    2) Pasien mempunyai kulit tanpa neritema dan tidak pucat.
    3) Pasien menunjukkan peningkatan berat badan dan massa otot.
    4) Kulit tidak akan teritasi akibat pemajanan terhadap fekal atau urine drainage.
    5) Menunjukkan hasil pembelajaran yang efektif untuk tujuan pemulangan dan perawatan pasien dirumah.

    DAFTAR PUSTAKA
    Capernito, Linda Juall. 1999. Rencana Diagnosa dan Dokumentasi Keperawatan : Diagnosa Keperawatan dan Masalah Kolaboratif Ed.2. Jakarta : EGC.
    Doenges, Marilynn E. 2000. Rencana Keperawatan : Pedoman Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta : EGC.
    Nurachman, Elly. 2001. Nutrisi Dalam Keperawatan. Jakarta : Sagung Seto.

    Read more...

    KOLESISTITIS

    CHOLECISTITYS

    A. Definisi
    Kolesistitis adalah radang kandung empedu yang menrupakan inflamasi akut
    dinding kandung empedu disertai nyeri perut kanan atas, nyeri tekan dan panas
    badan. Dikenal dua klasifikasi yaitu akut dan kronis (Brooker, 2001).
    Kolesistitis Akut adalah peradangan dari dinding kandung empedu, biasanya
    merupakan akibat dari adanya batu empedu di dalam duktus sistikus, yang secara
    tiba-tiba menyebabkan serangan nyeri yang luar biasa (www.medicastore.com).
    Kolesistitis Kronis adalah peradangan menahun dari dinding kandung empedu,
    yang ditandai dengan serangan berulang dari nyeri perut yang tajam dan hebat
    (www.medicastore.com).
    Cholesistektomy adalah bedah pengangkatan kandung empedu (biasanya untuk
    relief batu empedu sakit) (Dictionary: WordNet).

    B. Etiologi
     Sekitar 95% penderita peradangan kandung empedu akut, memiliki batu empedu.
    Kadang suatu infeksi bakteri menyebabkan terjadinya peradangan.
    Kolesistitis akut tanpa batu merupakan penyakit yang serius dan cenderung
    timbul setelah terjadinya: - cedera,
    - pembedahan
    - luka bakar
    - sepsis (infeksi yang menyebar ke seluruh tubuh)
    - penyakit-penyakit yang parah (terutama penderita yang menerima makanan lewat
    infus dalam jangka waktu yang lama).
    Sebelum secsara tiba-tiba merasakan nyeri yang luar biasa di perut bagian
    atas, penderita biasanya tidak menunjukan tanda-tanda penyakit kandung empedu.
    Kolesistitis kronis terjadi akibat serangan berulang dari kolesistitis akut,
    yang menyebabkan terjadinya penebalan dinding kandung empedu dan penciutan
    kandung empedu.Pada akhirnya kandung empedu tidak mampu menampung empedu.
    Penyakit ini lebih sering terjadi pada wanita dan angka kejadiannya meningkat
    pada usia diatas 40 tahun.
    Faktor resiko terjadinya kolesistitis kronis adalah adanya riwayat
    kolesistitis akut sebelumnya (www.medicastore.com).


    C. Patofisiologi
    Kandung empedu memiliki fungsi sebagai tempat menyimpan cairan empedu dan
    memekatkan cairan empedu yang ada didalamnya dengan cara mengabsorpsi air dan
    elektrolit. Cairan empedu ini adalah cairan elektrolit yang dihasilkan oleh sel
    hati.
    Pada individu normal, cairan empedu mengalir ke kandung empedu pada saat
    katup Oddi tertutup. Dalam kandung empedu, cairan empedu dipekatkan dengan
    mengabsorpsi air. Derajat pemekatannya diperlihatkan oleh peningkatan konsentrasi
    zat-zat padat. Stasis empedu dalam kandung empedu dapat mengakibatkan
    supersaturasi progresif, perubahan susunan kimia dan pengendapan unsur tersebut.
    Perubahan metabolisme yang disebabkan oleh perubahan susunan empedu, stasis
    empedu, dapat menyebabkan infeksi kandung empedu (www.mamashealth.com).

    D. Gejala
    Timbulnya gejala bisa dipicu oleh makan makanan berlemak. Gejala bisa berupa:
    - Tanda awal dari peradangan kandung empedu biasanya berupa nyeri di perut kanan
    bagian atas.
    - Nyeri bertambah hebat bila penderita menarik nafas dalam dan sering menjalar ke
    bahu kanan.
    - Biasanya terdapat mual dan muntah.
    - Nyeri tekan perut
    - Dalam beberapa jam, otot-otot perut sebelah kanan menjadi kaku.
    - Pada mulanya, timbul demam ringan, yang semakin lama cenderung meninggi.
    - Serangan nyeri berkurang dalam 2-3 hari dan kemudian menghilang dalam 1 minggu.
    - Gangguan pencernaan menahun
    - Nyeri perut yang tidak jelas (samar-samar)
    - Sendawa.

    E. KOMPLIKASI
     Demam tinggi, menggigil, peningkatan jumlah leukosit dan berhentinya gerakan
    usus (ileus) dapat menunjukkan terjadinya abses, gangren atau perforasi kandung
    empedu.
     Serangan yang disertai jaundice (sakit kuning) atau arus balik dari empedu ke
    dalam hati menunjukkan bahwa saluran empedu telah tersumbat sebagian oleh batu
    empedu atau oleh peradangan.
     Jika pemeriksaan darah menunjukkan peningkatan kadar enzim amilase, mungkin
    telah terjadi peradangan pankreas (pankreatitis) yang disebabkan oleh penyumbatan
    batu empedu pada saluran pankreas (duktus pankreatikus).

    F. Pemeriksaan penunjang
    - CT scan perut
    - Kolesistogram oral
    - USG perut.
    - blood tests (looking for elevated white blood cells)

    G. Penatalaksanaan medis
     - Pengobatan yang biasa dilakukan adalah pembedahan.
    - Kolesistektomi bisa dilakukan melalui pembedahan perut maupun melalui
    laparoskopi.
    - Penderita yang memiliki resiko pembedahan tinggi karena keadaan medis lainnya,
    dianjurkan untuk menjalani diet rendah lemak dan menurunkan berat badan.
    - Bisa diberikan antasid dan obat-obat antikolinergik.


    MANAJEMEN KEPERAWATAN
    A. PENGKAJIAN
    Pengkajian adalah langkah awal dan dasar dalam proses keperawatan secara
    menyeluruh (Boedihartono, 1994).
    Pengkajian pasien Post operatif (Doenges, 1999) adalah meliputi :
    1). Sirkulasi
    Gejala : riwayat masalah jantung, GJK, edema pulmonal, penyakit vascular
    perifer, atau stasis vascular (peningkatan risiko pembentukan
    trombus).
    2). Integritas ego
    Gejala : perasaan cemas, takut, marah, apatis ; factor-faktor stress
    multiple, misalnya financial, hubungan, gaya hidup.
    Tanda : tidak dapat istirahat, peningkatan ketegangan/peka rangsang ;
    stimulasi simpatis.
    3). Makanan / cairan
    Gejala : insufisiensi pancreas/DM, (predisposisi untuk hipoglikemia/
    ketoasidosis) ; malnutrisi (termasuk obesitas) ; membrane mukosa
    yang kering (pembatasan pemasukkan / periode puasa pra operasi
    4). Pernapasan
    Gejala : infeksi, kondisi yang kronis/batuk, merokok.
    5). Keamanan
    Gejala : alergi/sensitive terhadap obat, makanan, plester, dan larutan ;
    Defisiensi immune (peningkaan risiko infeksi sitemik dan penundaan
    penyembuhan) ; Munculnya kanker / terapi kanker terbaru ; Riwayat
    keluarga tentang hipertermia malignant/reaksi anestesi ; Riwayat
    penyakit hepatic (efek dari detoksifikasi obat-obatan dan dapat
    mengubah koagulasi) ; Riwayat transfuse darah / reaksi transfuse.
    Tanda : menculnya proses infeksi yang melelahkan ; demam.
    6). Penyuluhan / Pembelajaran
    Gejala : pengguanaan antikoagulasi, steroid, antibiotic, antihipertensi,
    kardiotonik glokosid, antidisritmia, bronchodilator, diuretic,
    dekongestan, analgesic, antiinflamasi, antikonvulsan atau
    tranquilizer dan juga obat yang dijual bebas, atau obat-obatan
    rekreasional. Penggunaan alcohol (risiko akan kerusakan ginjal,
    yang mempengaruhi koagulasi dan pilihan anastesia, dan juga
    potensial bagi penarikan diri pasca operasi).

    B. Diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien post Operatif meliputi :
    1. Pola nafas, tidak efektif berhubungan dengan neuromuskular, ketidakseimbangan
    perseptual/kognitif, peningkatan ekspansi paru, obstruksi trakeobronkial.
    2. Perubahan proses pikir berhubungan dengan perubahan kimia misalnya penggunaan
    obat-obat farmasi, hipoksia ; lingkungan terapeutik yang terbatas misalnya
    stimulus sensori yang berlebihan ; stress fisiologis.
    3. Kekurangan volume cairan, resiko tinggi terhadap berhubungan dengan pembatasan
    pemasukkan cairan tubuh secara oral, hilangnya cairan tubuh secara tidak
    normal, pengeluaran integritas pembuluh darah.
    4. Nyeri akut berhubungan dengan gangguan pada kulit, jaringan dan integrittas
    otot, trauma muskuloskletal, munculnya saluran dan selang (Doenges,1999).

    C. INTERVENSI DAN IMPLEMENTASI
    Intervensi adalah penyusunan rencana tindakan keperawatan yang akan dilaksanakan
    untuk menanggulangi masalah sesuai dengan diagnosa keperawatan (Boedihartono,
    1994).
    Implementasi adalah pengelolaan dan perwujudan dari rencana keperawatan yang
    telah disusun pada tahap perencanaan (Effendi ,1995).
    Intervensi keperawatan pada pasien post Operatif (Doenges, 1999) meliputi :
    DP 1 :
    Tujuan : menetapkan pola napas yang normal/efektif dan bebas dari sianosis atau
    tanda-tanda hipoksia lainnya.
    Kriteria hasil : tidak ada perubahan pada frekuensi dan kedalaman pernapasan.
    INTERVENSI
     - Pertahankan jalan udara pasien dengan memiringkan kepala, hiperekstensi rahang,
    aliran udara faringeal oral.
    R : mencegah obstruksi jalan napas.
     - Auskultasi suara napas. Dengarkan ada/tidaknya suara napas.
    R : kurangnya suara napas adalah indikasi adanya obstruksi oleh mukus atau
    lidah dan dapat dibenahi dengan mengubah posisi ataupun pengisapan.
    - Observasi frekuensi dan kedalaman pernapasan, pemakaian otot-otot bantu
    pernapasan, perluasan rongga dada, retraksi atau pernapasan cuping hidung,
    warna kulit, dan aliran udara.
    R : dilakukan untuk memastikan efektivitas pernapasan sehingga upaya
    memperbaikinya dapat segerra dilakukan.
     - Letakkan pasien pada posisi yang sesuai, tergantung pada kekuatan pernapasan
    dan jenis pembedahan.
    R : elevasi kepala dan posisi miring akan mencegah terjadinya aaspirasi dari
    muntah, posisi yang benar akan mendorong ventilasi pada lobus paru bagian
    bawah dan menurunkan tekanan pada diafragma.
     - Lakukan latihan gerak sesegera mungkin pada pasien yang reaktif dan lanjutkan
    pada periode pascaoperasi.
    R : ventilasi dalam yang aktif membuka alveolus, mengeluarkan sekresi,
    meningkatkan pengangkutan oksigen, membuang gas anastesi ; batuk membantu
    mengeluarkan sekresi dari sistem pernapasan.
     - Lakukan pengisapan lendir jika diperlukan.
    R : obstruksi jalan napas dapat terjadi karena adanya darah atau mukus dalam
    tenggorok atau trakhea.
    - Kolaborasi, pemberian oksigen sesuai kebutuhan.
    R : dilakukan untuk meningkatkan atau memaksimalkan pengambilan oksigen yang
    akan diikat oleh Hb yang menggantikan tempat gas anastesi dan mendorong
    pengeluaran gas terssebut melalui zat-zat inhalasi.

    DP 2:
    Tujuan : meningkatkan tingkat kesadaran.
    Kriteria hasil : pasien mampu mengenali keterbatasan diri dan mencari sumber
    bantuan sesuai kebutuhan.
    INTERVENSI
     - Orientasikan kembali pasien secara terus menerus setelah keluar dari pengaruh
    anastesi ; nyatakan bahwa operasi telah selesai dilakukan.
    R : karena pasien telah meningkat kesadarannya, maka dukungan dan jaminan akan
    membantu menghilangkan ansietas.
     - Bicara pada pasien dengan suara yang jelaas dan normal tanpa membentak, sadar
    penuh akan apa yang diucapkan.
    R : tidak dapat ditentukan kapan pasien akan sadar penuh, namun sensori
    pendengaran merupakan kemampuan yang pertama kali akan pulih.
     - Evaluasi sensasi/pergerakkan ekstremitas dan batang tenggorok yang sesuai.
    R : pengembalian fungsi setelah dilakukan blok saraf spinal atau lokal yang
    bergantung pada jenis atau jumlah obat yang digunakan dan lamanya prosedur
    dilakukan.
    - Gunakan bantalan pada tepi tempat tidur, lakukan pengikatan jika diperlukan.
    R : berikan keamanan bagi pasien selama tahap darurat, mencegah terjadinya
    cedera pada kepala dan ekstremitas bila pasien melakukan perlawanan selama
    masa disorientasi.
    - Periksa aliran infus, selang endotrakeal, kateter, bila dipasang dan pastikan
    kepatenannya.
    R : pada pasien yang mengalami disorientasi, mungkin akan terjadi bendungan
    pada aliran infus dan sistem pengeluaran lainnya, terlepas, atau tertekuk.
     - Pertahankan lingkungan yang tenang dan nyaman.
    R : stimulus eksternal mungkin menyebabkan abrasi psikis ketika terjadi
    disosiasi obat-obatan anastesi yang telah diberikan.


    DP 3 :
    Tujuan : keseimbangan cairan tubuh adekuat.
    Kriteria hasil : tidak ada ada tanda-tanda dehidrasi (tanda-tanda vital stabil,
    kualitas denyut nadi baik, turgor kulit normal, membran mukosa
    lembab dan pengeluaran urine yang sesuai).
    INTERVENSI
    - Ukur dan catat pemasukan dan pengeluaran. Tinjau ulang catatan intra operasi.
    R : dokumentasi yang akurat akan membantu dalam mengidentifikasi pengeluaran
    cairan/kebutuhan penggantian dan pilihan-pilihan yang mempengaruhi
    intervensi.
     - Kaji pengeluaran urinarius, terutama untuk tipe prosedur operasi yang dilakukan.
    R : mungkin akan terjadi penurunan ataupun penghilangan setelaha prosedur pada
    sistem genitourinarius dan atau struktur yang berdekatan mengindikasikan
    malfungsi ataupun obstruksi sistem urinarius.
    - Pantau tanda-tanda vital.
    R : hipotensi, takikardia, peningkatan pernapasan mengindikasikan kekurangan
    kekurangan cairan.
     - Letakkan pasien pada posisi yang sesuai, tergantung pada kekuatan pernapasan
    dan jenis pembedahan.
    R : elevasi kepala dan posisi miring akan mencegah terjadinya aaspirasi dari
    muntah, posisi yang benar akan mendorong ventilasi pada lobus paru bagian
    bawah dan menurunkan tekanan pada diafragma.
     - Periksa pembalut, alat drain pada interval reguler. Kaji luka untuk terjadinya
    pembengkakan.
    R : perdarahan yang berlebihan dapat mengacu kepada hipovolemia/hemoragi.
     - Pantau suhu kulit, palpasi denyut perifer.
    R : kulit yang dingin/lembab, denyut yang lemah mengindikasikan penurunan
    sirkulasi perifer dan dibutuhkan untuk penggantian cairan tambahan.
     - Kolaborasi, berikan cairan parenteral, produksi darah dan atau plasma ekspander
    sesuai petunjuk. Tingkatkan kecepatan IV jika diperluakan.
    R : gantikan kehilangan cairan yang telah didokumentasikan. Catat waktu
    penggangtian volume sirkulasi yang potensial bagi penurunan komplikasi,
    misalnya ketidak seimbangan.

    DP 4:
    Tujuan : pasien mengatakan bahwa rasa nyeri telah terkontrol atau hilang.
    Kriteria hasil : pasien tampak rileks, dapat beristirahat/tidur dan melakukan
    pergerakkan yang berarti sesuai toleransi.
    INTERVENSI
     - Evaluasi rasa sakit seccara reguler, catat karakteristik, lokasi dan
    intensiitas (0-10).
    R : sediakan informasi mengenai kebutuhan/efektivitas intervensi.
     - Catat munculnya rasa cemas/takut dan hubungkan dengan lingkungan dan persiapan
    untuk prosedur.
    R : perhatikan hal-hal yang tidak diketahui dan/atau persiapan inadekuat
    misalnya apendikstomi darurat) dapat memperburuk persepsi pasien akan rasa
    sakit.
     - Kaji tanda-tanda vital, perhatikan takikardia, hipertensi dan peningkatan
    pernapasan, bahkan jika pasien menyangkal adanya rasa sakit.
    R : dapat mengindikasikan rasa sakit akut dan ketidaknyamanan.
     - Berikan informasi mengenai sifat ketidaknyamanan, sesuai kebutuhan.
    R : pahami penyebab ketidaknyamanan, sediakan jaminan emosional.
     - Lakukan reposisi sesuai petunjuk, misalnya semi – Fowler ; miring.
    R : mungkin mengurangi rasa sakit dan meningkatkan sirkulasi. Posisi semi –
    Fowler dapat mengurangi tegangan otot abdominal dan otot pungguung
    artritis, sedangkan miring mengurangi tekanan dorsal.
     - Observasi efek analgetik.
    R : respirasi mungkin menurun pada pemberian narkotik, dan mungkin menimbulkan
    efek-efek sinergistik dengan zat-zat anastesi.
     - Kolaborasi, pemberian analgetik IV sesuai kebutuhan.
    R : analgetik IV akan dengan segera mencapai pusat rasa saki, menimbulkan
    penghilang yang lebih efektif dengan obat dosis kecil.

    B. EVALUASI
    Evaluasi adalah stadium pada proses keperawatan dimana taraf keberhasilan dalam
    pencapaian tujuan keperawatan dinilai dan kebutuhan untuk memodifikasi tujuan
    atau intervensi keperawatan ditetapkan (Brooker, 2001).
    Evaluasi yang diharapkan pada pasien post Operatif meliputi : 5
    1. Menetapkan pola napas yang normal/efektif dan bebas dari sianosis atau tanda-
    tanda hipoksia lainnya.
    2. Meningkatkan tingkat kesadaran.
    3. Keseimbangan cairan tubuh adekuat.
    4. Pasien mengatakan bahwa rasa nyeri telah terkontrol atau hilang.

    DAFTAR REFERENSI :
    Brooker, Christine. 2001. Kamus Saku Keperawatan. Jakarta : EGC.
    http://arifs45.multiply.com/journal/item/8
    http://kamus.landak.com/cari/cholecystectomy
    http://www.mamashealth.com/stomach/cholecy.asp
    http://www.medicastore.com/index.php?mod=penyakit&id=607
    http://www.medicastore.com/index.php?mod=penyakit&id=608
    Sloane, Ethel. 2004. Anatomi dan Fisiologi Untuk Pemula, Edisi I. Jakarta : EGC.
    Syaifudin, H, B.Ac, Drs. 1997. Anatomi Fisiologi Untuk Siswa Perawat, Edisi 2.
    Jakarta: EGC.

    Read more...

    About This Blog

    Lorem Ipsum

      © Blogger template Palm by Ourblogtemplates.com 2008

    Back to TOP